Peran Kembang Kol sebagai Agen Anti-Inflamasi dalam Diet Kontemporer
Diedit oleh: Olga Samsonova
Kembang kol, sayuran dari keluarga Brassicaceae yang sering disamakan dengan brokoli putih, telah diakui secara luas memiliki properti anti-inflamasi signifikan, menjadikannya komponen penting dalam berbagai rejimen diet sehat global. Kandungan fitokimia bermanfaat dalam sayuran ini mendukung respons peradangan tubuh yang sehat. Secara spesifik, tingginya kadar senyawa glucosinolates dan sulforaphane memberikan manfaat antioksidan kuat, membantu melawan stres oksidatif dalam tubuh.
Senyawa sulforaphane, turunan dari glucoraphanin, telah terbukti secara ilmiah memiliki sifat anti-inflamasi yang mampu menekan produksi molekul pro-inflamasi. Kondisi ini relevan karena molekul tersebut dikaitkan dengan perkembangan penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker. Selain itu, kembang kol menawarkan profil nutrisi yang substansial, mencakup sekitar 48,2 mg Vitamin C, 57 mcg Folat, dan 15,5 mcg Vitamin K per 100 gram, memperkuat peranannya sebagai agen pendukung fungsi biologis vital.
Aspek kesehatan lain yang didukung oleh konsumsi kembang kol adalah pemeliharaan integritas tulang. Kandungan Vitamin K yang tinggi, yang dapat mencapai 14% dari Nilai Harian (DV) dalam satu cangkir, berperan krusial dalam pembentukan protein osteocalcin, yang esensial untuk mineralisasi dan pengerasan tulang. Kekurangan Vitamin K dapat mengganggu proses ini, berpotensi menurunkan kepadatan tulang dan meningkatkan risiko osteoporosis, terutama menjadi perhatian bagi populasi lanjut usia. Kandungan fosfor dalam sayuran ini juga melengkapi dukungan nutrisi untuk kerangka tubuh.
Dalam konteks pencernaan, serat makanan kembang kol, sekitar 2 gram per cangkir, penting untuk melancarkan sistem pencernaan dan memberikan rasa kenyang lebih lama, mendukung upaya pengendalian berat badan karena hanya mengandung sekitar 25 kkal per cangkir. Isothiocyanates yang dilepaskan dari glucosinolates juga dilaporkan memberikan perlindungan pada lapisan perut dengan membantu melawan pertumbuhan bakteri Helicobacter pylori penyebab maag. Meskipun isu kembung kadang dikaitkan dengan konsumsi kembang kol, hal ini sebagian besar dapat dimitigasi melalui penyesuaian metode persiapan atau pengendalian porsi.
Inovasi kuliner telah meningkatkan penerimaan kembang kol, terutama melalui pemanfaatannya sebagai pengganti bahan dasar tradisional. Salah satu aplikasi populer adalah penggunaan kembang kol parut sebagai basis adonan pizza, sebuah langkah yang secara drastis mengurangi asupan karbohidrat dan kalori dibandingkan kulit pizza berbahan tepung terigu, yang dapat mencapai 30-40 gram karbohidrat per porsi. Para koki menekankan bahwa kunci keberhasilan aplikasi ini adalah pemerasan intensif untuk menghilangkan kadar air kembang kol yang tinggi, yang mencapai 92% dari beratnya, guna menghindari hasil akhir yang lembek.
Selain peran anti-inflamasi dan strukturalnya, kembang kol berkontribusi pada proses detoksifikasi alami tubuh melalui senyawa Indole-3-carbinol (I3C) dan sulforaphane, yang membantu mengaktifkan dan mengatur fungsi enzim detoksifikasi hati. Untuk memaksimalkan manfaat senyawa bioaktif seperti sulforaphane, para ahli menyarankan konsumsi mentah atau metode memasak ringan seperti mengukus selama 1 hingga 3 menit, karena pemanasan berlebih di atas 140°C dapat merusak kelompok senyawa glucosinolat.
3 Tampilan
Sumber-sumber
ElNacional.cat
AS.com
SENIOR50
podcastdedruni
20Minutos
dpa
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.