Komunikasi Kimiawi Anjing Melalui Ritual Mengendus

Diedit oleh: Olga Samsonova

Bagi anjing, ritual saling mengendus merupakan proses komunikasi kimiawi yang sangat maju, setara dengan meninjau profil profesional mendalam dalam hitungan detik. Praktik evolusioner ini secara efektif menjaga tatanan hierarki sosial, menggantikan interaksi fisik yang berpotensi agresif dengan pertukaran data yang terstruktur dan aman.

Kekuatan olfaktori anjing secara signifikan melampaui kemampuan indra manusia. Area otak anjing yang didedikasikan untuk analisis bau diperkirakan 40 kali lebih luas dibandingkan dengan ekuivalen manusia, dan beberapa sumber menyebutkan bahwa anjing memiliki lebih dari 100 juta reseptor penciuman, sementara manusia hanya memiliki sekitar enam juta reseptor. Perbedaan kuantitatif ini menghasilkan sensitivitas penciuman anjing yang 15 hingga 40 kali lebih tinggi daripada manusia terhadap aroma. Sebagai contoh, ras besar seperti German Shepherd sering kali digunakan untuk tugas pelacakan karena mereka dapat memiliki hingga 220 juta reseptor, berbeda dengan ras kecil yang mungkin hanya memiliki sekitar 80 juta reseptor.

Profil biografi kimiawi seekor anjing terungkap melalui senyawa yang dikeluarkan dari kelenjar anal mereka, yang terdiri dari asam lemak dan zat volatil lainnya. Senyawa-senyawa ini berfungsi sebagai catatan individu yang komprehensif, mengungkapkan status kesehatan, kondisi emosional, dan bahkan pola diet terbaru. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. George Preti dari Monell Chemical Senses Center di Philadelphia pada tahun 1975 mengidentifikasi bahwa sekresi anal mengandung bahan kimia identifikasi, termasuk trimetilamina, sebuah senyawa organik produk dekomposisi. Profil-profil ini juga menunjukkan perbedaan antara jantan dan betina, menegaskan peran krusialnya dalam komunikasi identifikasi dan seksual.

Struktur hidung anjing berfungsi sebagai alat diagnostik instan, yang mampu memproses 'keadaan pikiran' anjing lain secara cepat. Mereka juga dilengkapi dengan organ Jacobson atau organ vomeronasal, yang secara khusus dirancang untuk mendeteksi feromon—bahan kimia pembawa informasi perilaku dan fisik. Mengganggu ritual mengendus ini, misalnya dengan menarik tali kekang, sama saja dengan memutus percakapan esensial, yang berpotensi meningkatkan kecemasan karena hilangnya data vital.

Sensitivitas penciuman anjing sangat tinggi, memungkinkan mereka mendeteksi zat pada konsentrasi satu bagian per triliun, setara dengan setetes cairan dalam 20 kolam renang ukuran Olimpiade. Kemampuan ini telah dimanfaatkan secara luas; anjing Bloodhound telah digunakan oleh penegak hukum selama hampir dua abad, mampu melacak jejak aroma yang berusia hingga berhari-hari. Selain itu, penelitian eksperimental menunjukkan bahwa anjing dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit manusia seperti kanker dan diabetes hanya melalui penciuman. Dalam konteks lingkungan, studi dari Universitas Internasional Florida menunjukkan anjing mampu mendeteksi penyakit jamur pada pohon laurel, yang telah menyebabkan kematian 300 juta pohon di Amerika Serikat saja. Sikap mengendus ini, yang didorong oleh neofilia—ketertarikan pada bau baru—adalah inti dari interaksi sosial mereka, jauh melampaui sekadar pengenalan teritorial.

9 Tampilan

Sumber-sumber

  • Olhar Digital - O futuro passa primeiro aqui

  • American Chemical Society

  • The Jerusalem Post

  • PubMed

  • Cramer Latam

  • American Kennel Club

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?

Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.