Kejatuhan Bursa Asia Dipicu Lonjakan Harga Minyak Pasca Ketegangan Timur Tengah
Diedit oleh: Aleksandr Lytviak
Bursa saham di Tokyo, Jepang, dan Seoul, Korea Selatan, mengalami kemerosotan tajam pada hari Senin, 9 Maret 2026, sebagai respons langsung terhadap lonjakan harga minyak mentah internasional yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Di Tokyo, Indeks Nikkei 225 terperosok lebih dari 7%, sempat menembus batas psikologis 52.000 poin, mencatatkan level terendah dalam dua bulan terakhir. Kejatuhan ini mencerminkan kerentanan ekonomi Jepang sebagai salah satu importir minyak dan gas terbesar di dunia, di mana kenaikan biaya energi memberikan tekanan signifikan pada fundamental ekonomi.
Peristiwa pemicu utama adalah serangan udara Israel terhadap fasilitas minyak Iran pada hari Sabtu, 7 Maret 2026, yang secara drastis mengganggu jalur pelayaran krusial melalui Selat Hormuz, arteri vital perdagangan energi global. Akibat gangguan ini, harga minyak mentah Amerika Serikat (WTI) melonjak hingga mencapai kisaran $114-$119 per barel, sementara minyak Brent melampaui $114 per barel, menandai kenaikan harian sebesar 20-25% atau lebih dari penutupan sebelumnya. Situasi geopolitik semakin diperparah dengan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, sebuah langkah yang mengisyaratkan potensi garis keras dalam kepemimpinan Teheran.
Di Korea Selatan, indeks KOSPI mengalami kontraksi yang lebih dalam, melampaui penurunan 8%, yang secara otomatis memicu aktivasi pemutus sirkuit perdagangan (circuit breaker) selama 20 menit pada pukul 10:31 waktu setempat. Penurunan tajam ini menekan saham-saham unggulan; Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing merosot antara 10% hingga 12% dalam perdagangan hari itu. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, gejolak harga minyak ini langsung meningkatkan kekhawatiran inflasi domestik dan mendorong aksi jual oleh investor.
Sebagai ilustrasi dampak mata uang, Dolar Amerika Serikat menguat signifikan terhadap Yen Jepang, diperdagangkan pada level 158,68-69 yen per dolar, yang merupakan titik terendah bagi Yen sejak tahun 2009. Implikasi global dari guncangan energi ini adalah menguatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) dan kekhawatiran inflasi yang meluas, mendorong modal keluar dari aset berisiko. Investor global, termasuk dana asing yang tercatat melepas lebih dari 1 triliun won (sekitar US$668 juta) saham Kospi pada Senin pagi, menunjukkan sentimen negatif yang meluas.
Kepala Eksekutif Fibonacci Asset Management Global, Jung In Yun, menekankan bahwa ketidakpastian mengenai durasi konflik Timur Tengah menjadi pemicu utama tekanan pasar saat ini. Pasar keuangan Asia diperkirakan akan mempertahankan volatilitas tinggi, dengan para pelaku pasar secara cermat memantau perkembangan konflik dan dampaknya terhadap rantai pasokan energi global. Sebelumnya, pada Rabu, 4 Maret 2026, Indeks Nikkei 225 juga telah anjlok 3,61% akibat kekhawatiran gangguan pasokan minyak menyusul blokade Iran di Selat Hormuz, mengindikasikan sensitivitas pasar yang tinggi terhadap isu Timur Tengah sebelum guncangan harga minyak masif pada 9 Maret 2026.
4 Tampilan
Sumber-sumber
Adnkronos
日本経済新聞
1News
Midland Daily News
CityNews Toronto
The Guardian
PBS News
The Hindu
Malay Mail
TribLIVE
Kpler
The Washington Post
The Times of Israel
Texas Public Radio
Trading Economics
The Guardian
Xinhua
Wikipedia
NIESR
Reddit
TradingKey
Google Search
Investing.com
第一生命経済研究所
ChosunBiz
BeInCrypto Japan
TradingKey
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



