Psikologi Tari Meningkatkan Fungsi Kognitif dan Kesejahteraan Mental

Diedit oleh: Olga Samsonova

Penelitian terbaru dalam Psikologi Tari menunjukkan bahwa pergerakan tubuh berirama adalah sarana yang sangat efektif untuk meningkatkan fungsi kognitif dan mendukung kesejahteraan mental. Aktivitas fisik terstruktur ini secara ilmiah terbukti merangsang berbagai area otak, memicu neurogenesis—pembentukan koneksi saraf baru—yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan daya ingat dan ketajaman mental secara keseluruhan.

Studi yang membandingkan efek berjalan, peregangan, dan menari pada fungsi otak lansia mengamati bahwa menari memberikan dampak positif yang paling signifikan, terutama ketika koreografi ditingkatkan kompleksitasnya seiring waktu. Dalam sebuah penelitian enam bulan terhadap sukarelawan berusia 60-an dan 70-an, kompleksitas dalam mengikuti koreografi menuntut koordinasi tinggi, yang mengasah kesadaran spasial dan kemampuan pemecahan masalah. Aktivitas ini secara khusus diidentifikasi dapat menurunkan risiko demensia karena menggabungkan tantangan kognitif intensif dengan keterlibatan emosional yang mendalam.

Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan di Jerman mengindikasikan bahwa kelas tari dapat meningkatkan optimisme dan rasa percaya diri pada individu yang mengalami depresi ringan hingga sedang. Gerakan ritmis dalam tarian secara biologis memicu pelepasan serangkaian neurokimia penting, termasuk endorfin, dopamin, dan serotonin, yang secara alami berfungsi mengangkat suasana hati dan meredam gejala kecemasan. Endorfin, yang dikenal sebagai pereda nyeri alami, dilepaskan saat berolahraga atau melakukan aktivitas yang menyenangkan, membantu meredakan stres dan meningkatkan kenyamanan.

Ketika gerakan dilakukan secara sinkron dengan orang lain, terjadi pelepasan oksitosin, yang dikenal sebagai hormon ikatan sosial, yang secara efektif memperkuat kedekatan antarindividu dan melawan perasaan terasing. Penelitian yang dipublikasikan di National Library of Medicine, AS, mendukung temuan bahwa tarian sinkronisasi menciptakan kedekatan antarindividu dan memicu persahabatan. Selain itu, tarian menyediakan saluran non-verbal yang kuat untuk pelepasan dan katarsis emosional, sebuah prinsip yang dimanfaatkan oleh terapis gerakan tari (Dance/Movement Therapy).

Regulasi sistem saraf juga terbantu oleh ritme dan sinkronisasi gerakan, yang membantu tubuh beralih dari kondisi kewaspadaan tinggi menuju keadaan yang lebih tenang. Aktivitas fisik kardiorespirasi ini, seperti menari selama minimal 20 menit, terbukti dapat menurunkan kecemasan, stres, dan depresi melalui stimulasi endorfin. Integrasi pemrosesan fisik, sensorik, dan kognitif menjadikan tarian sebagai 'latihan neurologis' komprehensif yang mendorong plastisitas saraf sepanjang rentang kehidupan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh UCLA Health pada tahun 2021, yang mensurvei 1.000 penari global dengan riwayat depresi, kecemasan, dan trauma, menemukan bahwa latihan tari secara signifikan meningkatkan suasana hati, kepercayaan diri, dan kasih sayang. Secara historis, senam ritmik, yang merupakan cikal bakal dari beberapa aspek tari, mulai berkembang di Eropa pada awal abad ke-20 melalui metode eurythmics yang diperkenalkan oleh Émile Jaques-Dalcroze, menggabungkan musik dan gerak ritmis. Penemuan bahwa olahraga fisik secara sukarela dapat meningkatkan proliferasi sel punca di hippocampus, seperti yang diungkapkan oleh penelitian pertengahan 1990-an, memberikan landasan ilmiah bagi manfaat neurogenesis yang didorong oleh gerakan ritmis. Dengan demikian, tarian merepresentasikan intervensi holistik yang memelihara kesehatan otak dan menyeimbangkan spektrum emosi manusia.

5 Tampilan

Sumber-sumber

  • Madhyamam

  • En Face Magazine

  • The Indian Express

  • NeuroscienceofDance

  • National Geographic

  • Psychology Today

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.