Kecemburuan sebagai Sinyal Protektif dan Efek Penularan Senyuman dalam Kepercayaan Sosial
Diedit oleh: Olga Samsonova
Wawasan psikologis terkini mereposisi kecemburuan bukan semata-mata sebagai cacat kepribadian, melainkan sebagai respons emosional protektif yang menandakan adanya ancaman nyata terhadap dinamika relasional. Secara historis diasosiasikan secara negatif dengan rasa malu, para ahli kini mengemukakan bahwa emosi ini muncul ketika individu merasakan bahaya kehilangan sesuatu atau seseorang yang dianggap berharga, secara inheren mendorong upaya untuk mempertahankan hal tersebut. Psikolog sosial David B. Adams menyatakan bahwa kecemburuan dapat berfungsi sebagai sinyal kepedulian terhadap suatu hubungan, dan jika dikelola secara konstruktif, berpotensi memperkuat ikatan emosional serta memperbaiki komunikasi pasangan.
Namun, kecemburuan yang persisten, terutama yang berakar dari pengalaman masa kecil tentang perasaan tidak dianggap penting atau pengkhianatan di kemudian hari, dapat bermanifestasi secara fisik. Kondisi ini dapat memicu stres kronis, yang menurut studi, sangat berbahaya karena berpotensi merusak tubuh, pikiran, dan kehidupan seseorang secara menyeluruh. Stres kronis akibat kecemburuan yang tidak terkelola dapat menyebabkan gejala fisik seperti gangguan sistem kardiovaskular, peningkatan risiko penyakit jantung, serta menekan fungsi sistem kekebalan tubuh, membuat individu lebih rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, penanganan kecemburuan menuntut pemahaman mendalam mengenai asal-usulnya dan penciptaan ruang relasional yang aman untuk dialog terbuka mengenai kerentanan.
Secara simultan, penelitian dalam psikologi sosial menegaskan pengaruh kuat dan non-sadar dari peniruan emosi, khususnya dalam konteks senyuman. Manusia secara alami cenderung meniru ekspresi lawan bicara, dan studi menunjukkan bahwa peniruan ini lebih mudah dan cepat terjadi pada ekspresi positif seperti senyum dibandingkan dengan ekspresi kemarahan atau kesedihan, menggarisbawahi sifat menular dari ekspresi positif dalam interaksi sosial.
Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Emotion pada Desember 2024 oleh peneliti dari Universitas SWPS di Warsawa, Polandia, mengonfirmasi korelasi langsung antara imitasi senyuman dan peningkatan kepercayaan sosial. Dalam eksperimen yang melibatkan 64 partisipan, ditemukan bahwa individu lebih cenderung menilai orang yang tersenyum pada saat perkenalan sebagai sosok yang dapat dipercaya dan menyenangkan. Michał Olszanowski, PhD, peneliti utama, menekankan bahwa respons spontan ini, yang dikenal sebagai mimikri emosional, memperdalam pemahaman dan memperkuat koneksi sosial. Dengan demikian, ekspresi emosi positif seperti kebahagiaan terbukti secara ilmiah memupuk penilaian sosial yang lebih baik dan interaksi yang lebih menguntungkan secara global.
2 Tampilan
Sumber-sumber
Svet24.si - Vsa resnica na enem mestu
Nuevatribuna
Slovenska krovna zveza za psihoterapijo
MOD butična agencija - MOD MAJA Ojsteršek
PsiHara by Tina Korošec
PsiHara by Tina Korošec
PsiHara by Tina Korošec
2026 Ursula Hess: Psychology Researcher – H-Index, Publications & Awards
Michal OLSZANOWSKI | Professor (Associate) | PhD | SWPS University, Warsaw | SWPS | Psychology Department | Research profile - ResearchGate
Smile and the World Smiles (and Trusts) With You: Happiness Mimicry Shapes First Impressions. September 2025 · Emotion. Michal Olszanowski · Aleksandra Tolopilo · Ursula Hess.
Prof. Dr. Ursula Hess - Coping with Affective Polarization
Frases de Filósofos e iniciados
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.