
Strategi Intensional untuk Meningkatkan Kebahagiaan dan Produktivitas Pasca-60 Tahun
Diedit oleh: Olga Samsonova

Penelitian psikologis mengindikasikan bahwa banyak individu yang telah melampaui usia 60 tahun secara tidak sengaja mengadopsi rutinitas halus yang dapat mengikis vitalitas dan kegembiraan harian, meskipun periode ini sering dianggap sebagai masa kebebasan. Lansia, yang didefinisikan secara hukum di Indonesia sebagai individu berusia 60 tahun ke atas, menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas hidup, yang merupakan kunci bagi kesejahteraan emosional dan fisik. Kebiasaan yang secara kolektif menekan spontanitas dan koneksi meliputi perencanaan yang terlalu kaku, fokus berlebihan pada kenangan masa lalu, dan kecenderungan untuk menarik diri dari interaksi sosial.
Perencanaan yang terlalu kaku menghilangkan ruang esensial untuk memelihara rasa ingin tahu, sementara terus-menerus terpaku pada kejayaan lampau dapat membuat realitas saat ini terasa kurang memuaskan. Selain itu, penarikan diri secara sosial, meskipun kadang dilakukan atas dasar kenyamanan, dapat memicu isolasi sosial dan kesepian. Studi menunjukkan bahwa isolasi sosial merupakan faktor risiko penuaan yang buruk, terhubung dengan kondisi seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan depresi.
Untuk melawan kecenderungan ini, langkah awal yang signifikan adalah mengubah rutinitas menjadi ritual sensorik dan menetapkan jeda bebas media untuk membatasi konsumsi berita 24/7. Pendekatan ini selaras dengan filosofi produktivitas modern, seperti 'Aturan Satu' (Rule of One), yang menekankan fokus tunggal sebagai kunci mengurangi stres akibat peralihan konteks. Filosofi ini menuntut identifikasi satu Tugas Paling Penting (MIT) setiap hari untuk mendorong kerja mendalam, yang menghasilkan rasa pencapaian dan peningkatan kontrol atas alokasi waktu. Kendali atas keputusan hidup harian, mulai dari aktivitas hingga menu makanan, sangat penting untuk menjaga harga diri dan kebahagiaan lansia.
Tindakan kecil yang disengaja berfungsi sebagai 'kebiasaan kunci' yang menambatkan kesejahteraan psikologis. Contohnya, merapikan tempat tidur di pagi hari membangun rasa pencapaian awal, yang memicu pelepasan dopamin dan merangsang efek 'penularan kesuksesan'. Penelitian oleh sosio-ekonom Randall Bell menunjukkan bahwa individu yang secara konsisten merapikan tempat tidur memiliki peluang lebih besar untuk meraih kesuksesan, bahkan berpotensi menjadi jutawan dengan kemungkinan lebih dari 200 persen. Kemenangan mikro ini menumbuhkan rasa kendali dan prediktabilitas, yang krusial dalam mengelola kecemasan dan meningkatkan regulasi emosional.
Pada akhirnya, pemulihan kegembiraan di usia lanjut dan maksimalisasi efektivitas harian bergantung pada pengurangan kekacauan mental, mengadopsi fokus yang disengaja, dan memelihara jangkar perilaku positif yang kecil. Upaya proaktif ini menjadi sangat relevan mengingat proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 22% populasi Indonesia diperkirakan akan berusia 60 tahun atau lebih pada tahun 2050. Dukungan komprehensif yang mencakup aspek bio-psiko-sosial-kultural serta spiritual diperlukan untuk membantu lansia menerima perubahan peran dan menghindari perasaan tidak berguna yang dapat memicu depresi.
29 Tampilan
Sumber-sumber
smithamevents.com.au
Ad Hoc News
smithamevents.com.au
Global English Editing
Cottonwood Psychology
Money Talks News
Concordia University
Northeastern University
YouTube
Four O'Clock Faculty
DeepFocusPro
Inc. Magazine
Oreate AI
The psychology of making your bed every morning: 5 surprising benefits most people miss
The Power of Bed Making | Health Library - Lake Granbury Medical Center
Making Your Bed Right After You Wake Up: What Psychologists Say It Reveals About You
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



