
Semua Keinginan Anda Pasti Terwujud
Penulis: lee author

❓ PERTANYAAN:
“Sebenarnya hanya ada satu alasan kematian seseorang—ia telah menciptakan kapasitas diri yang terlalu besar bagi fisiknya. ‘Balonnya menggelembung begitu besar hingga akhirnya meletus’. — (dikutip dari lee_vibrations)”
Mohon jelaskan, apa yang Anda maksud dengan hal tersebut?! Apakah kapasitas diri yang terlalu besar itu soal skala? Kedalaman? Atau lebarnya?
❗️ JAWABAN lee:
Anda menciptakan kehidupan bukan untuk “berumur panjang”, melainkan demi tujuan tertentu yang melampaui pemahaman linear ego (seperti menumpuk harta, melakukan hal remeh, meneruskan keturunan, memutus silsilah lain, melanjutkan warisan pendahulu, merasa berhak untuk hidup, atau sekadar ingin dikenang... hal-hal ini terasa konyol bagi Jiwa yang Abadi). Apakah Anda setuju dengan hal ini?
Jadi, Anda sebagai Jiwa menciptakan sebuah perwujudan hidup dengan tujuan-tujuan Anda sendiri.
Namun di saat yang sama, Anda sebagai Pribadi mulai membayangkan segala macam hal mulai dari harta, monumen, medali, uang, kapal pesiar, asmara yang rumit, memelihara ternak, menulis simfoni, bertindak konyol pada orang asing, hingga terjun payung... keinginan tak terbatas dengan segala ragam sensasinya.
Di titik ini, mari kita ingat kembali ratusan ribu pertanyaan penuh keraguan: “apakah saya benar-benar memiliki kehendak bebas?”...
Ada.
Segala sesuatu yang Anda bayangkan akan terwujud. Semua keinginan Anda pasti mewujud sesuai dengan logika kerja Alam Semesta. Semuanya, tanpa terkecuali. Segala hal telah dicatat dan disertakan dalam Arus Realisasi. Tidak selalu secara harfiah, namun secara rasa akan sangat akurat.
Nah, bagian-bagian dari diri Anda ini harus terwujud, tetapi Anda tidak selalu siap menghadapinya. Katakanlah begini—hampir semua orang menciptakan tsunami keinginan sepanjang hidupnya, namun sebagian besar (99%) mereka hambat sendiri perwujudannya (karena merasa tidak bisa, tidak mampu, tidak layak, terlambat, tidak lazim, takut dicela, malu, tidak sanggup, atau tidak tahu caranya...).
Energi keinginan inilah yang mencapai titik kritis hingga Jiwa memutuskan—“kita tidak bisa lagi mewujudkan apa pun di sini, saatnya beralih ke inkarnasi lain”. Secara teknis, keinginan tersebut telah “meregangkan” energi penciptaan sedemikian rupa hingga energi itu sendiri sudah bergerak menuju perwujudan berikutnya.
Ini adalah jawaban untuk pertanyaan Anda, namun belum mencakup bagian di mana pengabdian kepada sesama menjadi bagian dari persamaan tersebut. Artinya, secara teknis energi akan selalu menarik melampaui batas satu kehidupan, namun logika pembentukan energi ini bisa berbeda-beda, sebagaimana alasan-alasan yang menghambat realisasi keinginan tersebut.
19 Tampilan
Sumber-sumber
Сайт Автора lee
Baca lebih banyak artikel tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



