Resonansi Internal: Dampak Ketegangan Kronis pada Sistem Pencernaan
Diedit oleh: Olga Samsonova
Ketegangan saraf yang berlangsung lama atau kronis memberikan dampak yang sangat besar terhadap fungsi terkoordinasi saluran pencernaan, jauh melampaui sekadar ketidaknyamanan ringan. Saat tubuh menginterpretasikan lingkungan eksternal sebagai ancaman atau tantangan, kelenjar adrenal segera diaktifkan untuk memproduksi kortisol. Hormon ini berfungsi memobilisasi energi dan sumber daya untuk respons cepat. Sayangnya, jika kaskade hormonal ini terus-menerus membanjiri sistem tubuh dalam jangka waktu panjang, hal itu akan mengganggu proses-proses halus yang terjadi di dalam saluran gastrointestinal.
Meskipun peningkatan kadar kortisol bermanfaat dalam situasi darurat jangka pendek, stres kronis justru mengakibatkan penurunan produksi cairan lambung esensial dan enzim pankreas yang vital. Konsekuensi langsung dari kondisi ini adalah terhambatnya proses pemecahan makanan secara efisien dan penyerapan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Bersamaan dengan itu, aktivasi berkelanjutan dari sistem saraf simpatik—yang dikenal sebagai mode “lawan atau lari”—mengalihkan aliran darah. Darah dialihkan dari organ pencernaan menuju area yang dianggap lebih mendesak. Pengalihan ini secara signifikan memperlambat gerakan peristaltik usus dan mengurangi pasokan oksigen ke jaringan pencernaan.
Perubahan ritme kerja usus merupakan dampak langsung dari redistribusi sumber daya internal ini. Transit makanan yang terlalu cepat tidak menyisakan waktu yang cukup bagi penyerapan nutrisi secara maksimal. Sebaliknya, perlambatan transit memicu stagnasi dan proses fermentasi, yang dapat bermanifestasi sebagai diare maupun sembelit. Lebih jauh lagi, ketegangan emosional memicu inflamasi sistemik. Hal ini meningkatkan permeabilitas dinding usus—fenomena yang sering disebut 'usus bocor'. Peningkatan permeabilitas ini memungkinkan zat-zat iritan masuk ke aliran darah, yang kemudian memicu reaksi peradangan di seluruh tubuh.
Hubungan erat antara otak dan usus, yang dikenal sebagai poros “otak-usus” (brain-gut axis), diatur melalui jaringan kompleks, termasuk peran penting saraf vagus. Ketika keseimbangan ini terganggu, dapat timbul gangguan fungsional seperti sindrom iritasi usus besar (Irritable Bowel Syndrome/IBS), di mana reseptor menjadi sangat sensitif terhadap rangsangan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari bahwa kondisi ketenangan internal memiliki korelasi langsung dengan kinerja sistem pencernaan yang harmonis dan optimal.
Untuk mengembalikan keseimbangan ini, kita perlu mengalihkan fokus pada praktik-praktik yang mendorong aktivasi sistem parasimpatik—mode “istirahat dan cerna”. Aktivitas fisik teratur dan moderat, misalnya berenang atau berjalan kaki, telah terbukti efektif dalam menurunkan kadar hormon stres. Selain itu, teknik pernapasan dalam dan meditasi sangat membantu meredakan ketegangan secara keseluruhan. Menjaga mikrobiota usus yang sehat melalui konsumsi probiotik, seperti yogurt atau kefir, juga berperan dalam menekan kortisol. Pola makan seimbang yang kaya serat makanan adalah fondasi bagi perkembangan mikrobiota baik, memungkinkan transformasi kondisi internal yang menjadi akar munculnya disfungsi pencernaan.
Sumber-sumber
Todo Noticias
Vitae Health Innovation
Mayo Clinic
National Geographic
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?
Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
