Model Kecerdasan Buatan NTU Prediksi Pembusukan Makanan untuk Efisiensi Rantai Pasok Singapura

Diedit oleh: Olga Samsonova

Nanyang Technological University, Singapura (NTU Singapore) telah mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk memprediksi pertumbuhan bakteri pada berbagai jenis makanan. Inisiatif ini merupakan respons strategis terhadap ketahanan pangan Singapura, sebuah negara kota yang mengimpor lebih dari 90 persen pasokan makanannya, di tengah tantangan rantai pasok global. Teknologi prediktif ini bertujuan memberikan panduan akurat kepada peritel mengenai batas waktu simpan, kondisi penyimpanan, dan manajemen stok, dengan sasaran memangkas pemborosan makanan secara signifikan di wilayah tersebut.

Pengembangan model AI ini dilakukan di Future Ready Food Safety Hub (FRESH@NTU), sebuah pusat riset kolaboratif yang melibatkan NTU, Agensi Pangan Singapura (Singapore Food Agency), dan Badan Sains, Teknologi, dan Riset (A*STAR). Para peneliti mempelajari perilaku mikroorganisme patogen, seperti Salmonella, di bawah variabel lingkungan makanan, termasuk fluktuasi suhu, tingkat keasaman, kadar garam, dan zat pengawet. Dr. Youssef Ezzaky, seorang Research Fellow di FRESH@NTU, menjelaskan bahwa pelatihan model memungkinkan AI meniru perilaku bakteri dalam sistem makanan nyata, sehingga menghasilkan estimasi waktu pembusukan yang lebih presisi dan kapan makanan tidak lagi aman untuk dijual.

Implementasi teknologi ini membawa implikasi operasional yang substansial. Profesor William Chen, Direktur Eksekutif FRESH@NTU, menyatakan bahwa eksperimen telah menunjukkan keselarasan kuat antara prediksi AI dan perilaku bakteri aktual, membuktikan potensinya untuk memantau kontaminasi pada sampel makanan sungguhan. Pemodelan prediktif ini juga membuka jalan bagi penggunaan sistem pendingin yang lebih efisien; dengan memonitor faktor seperti suhu dan kelembapan di sepanjang rantai distribusi, operator dapat mengidentifikasi titik kritis. Hal ini berpotensi menghasilkan penghematan biaya energi yang substansial, misalnya dengan mengizinkan sedikit kenaikan suhu pada penyimpanan beku dari -20°C menjadi -16°C tanpa mengorbankan kualitas produk.

Langkah konkret menuju komersialisasi mencakup rencana uji coba teknologi ini. Rantai supermarket Sheng Siong telah menyatakan minat untuk berkolaborasi dan diharapkan akan menguji coba sistem AI ini pada paruh kedua tahun 2026, sejalan dengan prioritas mereka dalam meningkatkan keamanan pangan. Selain itu, tim NTU berupaya menjalin kemitraan dengan perusahaan penyimpanan dingin dan penimbunan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan Singapura. Penerapan yang berhasil dapat mengurangi risiko keracunan makanan dan meminimalkan penarikan produk, yang diperkirakan dapat memotong risiko kontaminasi bakteri hingga lebih dari 90% jika digabungkan dengan teknologi lain seperti bakteriofag.

Inisiatif NTU ini sejalan dengan dorongan nasional Singapura untuk digitalisasi sektor manufaktur makanan, sebagaimana tercermin dalam Rencana Industri Digital Manufaktur Makanan (IDP) yang diperbarui oleh Enterprise Singapore. Rencana ini menyoroti pemanfaatan solusi AI untuk meningkatkan efisiensi operasional di tengah kenaikan biaya operasional dan kendala tenaga kerja. Dengan mengadopsi teknologi prediktif ini, industri ritel dapat bergerak melampaui analisis pilot menuju eksekusi alur kerja sehari-hari. Keberhasilan implementasi AI dalam sektor pangan di Singapura, yang sangat bergantung pada impor, menjadi penentu penting dalam upaya negara mencapai target '30 by 30' untuk memproduksi 30 persen kebutuhan nutrisinya secara lokal pada tahun 2030.

1 Tampilan

Sumber-sumber

  • Mirage News

  • CNA

  • NTU Singapore

  • AcademicJobs SG

  • NTU Food Research Systems (NTU-FRS)

  • Future Ready Food Safety Hub-FRESH@NTU

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.