Fisika Teoretis Kaitkan Déjà Vu dengan Multiverse dan Teori Dawai
Diedit oleh: Irena I
Perasaan berulang yang akrab, dikenal sebagai déjà vu, memicu spekulasi mengenai kemungkinan pengalaman simultan di alam semesta lain atau keberadaan diri yang terulang. Disiplin fisika teoretis menunjukkan bahwa gagasan ini mungkin melampaui batas fiksi ilmiah semata, dengan fondasi konseptualnya berakar kuat dalam Mekanika Kuantum, studi fundamental mengenai perilaku materi pada skala atomik dan subatomik.
Fisikawan teoretis terkemuka, Dr. Michio Kaku, seorang pendukung utama teori dawai, secara konsisten mengadvokasi ide-ide berani yang menghubungkan karyanya dengan konsep lubang cacing dan multiverse. Kaku memprediksi bahwa kosmos kita hanyalah satu gelembung di antara lautan multiverse yang terus berkembang, di mana alam semesta lain memiliki hukum fisika yang berbeda secara fundamental. Teori dawai, yang mendalilkan bahwa segala sesuatu tersusun dari dawai-dawai kecil yang bergetar, menawarkan kerangka kerja untuk keberadaan multiverse, menempatkan alam semesta kita sebagai salah satu 'brane' dalam ruang berdimensi lebih tinggi yang disebut 'bulk'.
Kaku, yang juga dikenal sebagai penulis laris dan futurist, telah lama mengaitkan fenomena déjà vu dengan alam semesta paralel, menyarankan bahwa persepsi kita mungkin sesaat 'melompat' antar realitas. Dalam analogi yang sering digunakan Kaku, ia membandingkan keadaan kita dengan radio yang hanya tersambung pada satu frekuensi di antara ratusan stasiun yang ada di ruangan yang sama, menyiratkan bahwa alam semesta paralel secara teoretis ada di sekitar kita namun kita tidak beresonansi dengan mereka.
Penyelidikan ilmiah terbaru mengaitkan potensi validasi konsep-konsep ini dengan kemajuan dalam komputasi kuantum, seperti kinerja chip Willow Google pada akhir tahun 2024, yang mungkin mampu melakukan kalkulasi yang tidak mungkin dilakukan dalam rentang waktu usia alam semesta kita saat ini. Selain itu, eksplorasi kontemporer mengenai kesadaran mulai mengarah pada spekulasi bahwa kesadaran itu sendiri mungkin terjerat secara kuantum melintasi kosmos.
Perbatasan ilmiah ini terus didorong oleh alat observasi canggih seperti Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), sebuah kolaborasi internasional antara NASA, Badan Antariksa Eropa (ESA), dan Badan Antariksa Kanada (CSA). JWST terus mengungkap eksoplanet yang anomali dan mengonfirmasi klasifikasi planet, memicu refleksi mendalam tentang posisi umat manusia di alam semesta. Sebagai contoh, JWST berhasil mengidentifikasi galaksi tertua yang pernah diamati, yang terbentuk hanya 280 juta tahun setelah Big Bang. Pengamatan JWST pada sistem bintang HR 8799 pada awal 2026 juga menantang teori lama dengan menunjukkan bahwa planet raksasa gas memiliki kapasitas pertumbuhan yang jauh melampaui prediksi sebelumnya, sebagaimana diuraikan dalam jurnal Nature Astronomy pada 9 Februari 2026.
Pandangan kosmik yang diperluas ini menyoroti Paradoks Fermi, yaitu kontradiksi antara probabilitas tinggi keberadaan kehidupan ekstraterestrial dan ketiadaan bukti empiris yang meyakinkan, sebuah pertanyaan krusial pada tahun 2026. Tantangan filosofis mendasar tetap ada: apakah déjà vu hanyalah anomali otak ataukah ia merupakan cerminan dari realitas paralel? Sains, yang didorong oleh inovasi teknologi seperti JWST dan komputasi kuantum, dipaksa untuk mempertahankan pikiran terbuka terhadap kemungkinan keberadaan banyak eksistensi, meskipun konsensus ilmiah saat ini masih berpegang teguh pada hukum fisika yang teramati.
6 Tampilan
Sumber-sumber
Salamanca Rtv Al Día
YouTube
Illinois State University News
Wikipedia
Universe Today
Futurism
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



