Eksperimen Keterikatan Massa Mikro Uji Sifat Kuantum Gravitasi

Diedit oleh: Irena I

Fisika modern menghadapi pertanyaan mendasar mengenai sifat gravitasi, satu-satunya gaya fundamental yang belum terintegrasi secara utuh ke dalam kerangka mekanika kuantum. Sementara elektromagnetisme, gaya nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah dijelaskan secara konsisten melalui teori medan kuantum, gravitasi, sebagaimana dirumuskan oleh Albert Einstein melalui Relativitas Umum sebagai kelengkungan ruang-waktu, masih mengikuti hukum-hukum klasik. Upaya untuk mengembangkan teori gravitasi kuantum yang konsisten telah berlangsung selama lebih dari satu abad, mendorong fokus penelitian saat ini pada upaya eksperimental untuk menemukan petunjuk fenomena kuantum dalam gravitasi.

Sebuah jalur eksperimental yang menjanjikan, berakar dari ide yang diajukan oleh Richard Feynman pada tahun 1957, berupaya menyelidiki apakah gravitasi mampu menginduksi keterikatan kuantum antara dua massa yang sangat kecil. Keberhasilan mendeteksi keterikatan semacam itu akan memberikan indikasi kuat mengenai sifat kuantum gravitasi, yang menjadi pendorong utama bagi upaya eksperimental kontemporer. Fenomena keterikatan, di mana keadaan dua partikel terhubung secara instan terlepas dari jarak pemisahannya, telah dikonfirmasi melalui eksperimen seperti Eksperimen Bell.

Kelompok riset di seluruh dunia kini berupaya melaksanakan uji coba ini di laboratorium dengan menempatkan massa yang sangat kecil ke dalam kondisi kuantum mekanis yang sangat dingin. Para fisikawan di Wina merencanakan pendinginan manik-manik kaca mungil, berukuran sekitar 150 nanometer, menggunakan laser hingga partikel tersebut menunjukkan perilaku sebagai paket gelombang kuantum. Eksperimen lain mengadopsi prinsip Eksperimen Cavendish, bertujuan mengukur interaksi gravitasi antara objek-objek super kecil, dengan beberapa tim menargetkan objek dengan massa hanya beberapa mikrogram. Upaya-upaya ini sangat menantang, menuntut pelaksanaan dalam kondisi vakum mendekati sempurna dan terlindungi dari segala gangguan eksternal, sebab satu molekul saja berpotensi mengganggu keadaan kuantum yang sensitif atau keterikatan yang dicari.

Kompleksitas eksperimental ini diperparah oleh perkembangan teoretis baru yang mengindikasikan bahwa gravitasi yang murni klasik pun dapat memicu bentuk keterikatan antara massa di bawah kondisi tertentu, yang selanjutnya mempersulit interpretasi hasil eksperimen. Penemuan oleh fisikawan Joseph Aziz dan Richard Howl dari Royal Holloway, University of London, berargumen bahwa interaksi gravitasi dapat menyebabkan keterikatan kuantum tanpa memerlukan gravitasi kuantum, sebuah temuan yang menantang pandangan lama. Meskipun demikian, pencarian bukti eksperimental sifat kuantum gravitasi tetap menjadi prioritas utama, mengingat gravitasi jauh lebih lemah dibandingkan gaya fundamental lainnya, sehingga efek kuantumnya sangat sulit diamati.

Secara paralel, riset teoretis terus maju, dengan kelompok riset seperti Emmy Noether Junior Research Group yang baru di Universitas Hamburg berdedikasi untuk memecahkan area sulit dalam gravitasi kuantum. Kelompok riset junior Emmy Noether di Universitas Hamburg, yang didanai oleh German Research Foundation (DFG), memberikan kesempatan bagi ilmuwan muda untuk memimpin kelompok riset mereka sendiri selama maksimal enam tahun, sebuah program yang dinamai untuk mengenang matematikawan Jerman Emmy Noether (1882-1935). Salah satu kelompok riset junior di Departemen Fisika Universitas Hamburg, misalnya, berfokus pada aspek matematis teori medan kuantum dan teori dawai, yang berpotensi memberikan wawasan mengenai fenomena kosmologis seperti energi gelap.

Unifikasi antara Relativitas Umum dan mekanika kuantum tetap menjadi tujuan sentral untuk mencapai pemahaman komprehensif mengenai gaya fundamental alam semesta, sebuah subjek penelitian intensif global yang terus berlanjut hingga tahun 2026. Pencarian ini mencerminkan pergeseran paradigma dari spekulasi murni teoretis menuju hipotesis yang dapat diuji, meskipun hambatan teknis dan konseptual yang dihadapi para peneliti sangatlah besar.

3 Tampilan

Sumber-sumber

  • Frankfurter Allgemeine

  • FAZ

  • Spektrum der Wissenschaft

  • scinexx.de

  • Agenda INFN

  • Universität Hamburg

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.