Keterikatan Kuantum sebagai Fondasi Hipotetis bagi Geometri Ruang-Waktu

Diedit oleh: Irena I

Fisika teoretis saat ini mengeksplorasi hipotesis bahwa geometri alam semesta, yaitu ruang-waktu, dapat muncul dari struktur yang lebih mendasar, serupa dengan bagaimana suhu muncul dari gerakan molekuler. Keterikatan kuantum (quantum entanglement) telah menjadi kandidat utama untuk materi penyusun fundamental ini, yang mengikat dua titik dalam ruang secara bersamaan dalam jaringan korelasi kuantum.

Keterikatan kuantum, fenomena yang terverifikasi secara eksperimental pada tahun 1982 oleh Alain Aspect, mendefinisikan keadaan di mana pengukuran satu dari dua partikel yang terhubung secara instan menentukan keadaan partikel lainnya tanpa memandang jarak. Penelitian teoretis terkini, termasuk karya Hong Liu dari MIT pada Oktober 2025, mengindikasikan bahwa kekuatan keterikatan ini secara langsung berkorelasi dengan kontinuitas ruang; keterikatan yang kuat menyiratkan ruang yang kontinu, sementara ketiadaannya menyebabkan fragmentasi spasial. Liu sebelumnya dikenal atas penelitiannya mengenai dualitas holografik yang menghubungkan sistem materi kuantum dengan gravitasi kuantum dalam dimensi lebih tinggi.

Perdebatan mengenai sifat kuantum gravitasi menjadi lebih bernuansa pada akhir tahun 2025 setelah publikasi riset oleh Joseph Aziz dan Richard Howl dalam jurnal Nature. Makalah mereka, berjudul “Classical theories of gravity produce entanglement,” berargumen bahwa di bawah kondisi tertentu, bahkan gravitasi klasik berpotensi menghasilkan keterikatan kuantum. Temuan ini menantang pandangan sebelumnya bahwa keterikatan yang diinduksi secara gravitasi merupakan bukti tak terbantahkan mengenai sifat kuantum fundamental gravitasi. Karya Aziz dan Howl berakar dari eksperimen pemikiran Richard Feynman tahun 1957, yang mengusulkan menempatkan objek masif dalam superposisi kuantum dan membiarkannya berinteraksi secara gravitasi dengan massa lain untuk menginduksi keterikatan.

Diskusi mengenai temuan Aziz dan Howl memicu sanggahan dari beberapa fisikawan yang menyatakan model mereka tidak menghasilkan keterikatan, sehingga memperumit jalur menuju bukti definitif mengenai kuantisasi gravitasi. Namun, penelitian lanjutan pada awal 2026 menggarisbawahi peran independen keterikatan. Pada Februari 2026, Hollis Williams dan rekan-rekannya mendemonstrasikan bahwa keterikatan dapat eksis tanpa memerlukan geometri ruang-waktu yang sudah ada sebelumnya. Hasil ini mengimplikasikan bahwa ruang-waktu muncul sebagai konsekuensi dari jalinan kuantum murni, mengisolasi konten kuantum dari protokol yang dimediasi gravitasi.

Konfirmasi eksperimental mengenai apakah keterikatan menenun ruang-waktu akan merevolusi fisika secara fundamental, mengubah pemahaman kita tentang ruang dan waktu dari wadah pasif menjadi ilusi makroskopik yang ditenun dari benang-benang kuantum. Kemajuan teoretis pada tahun 2026 ini, yang menghubungkan keterikatan, aljabar von Neumann, dan kemunculan ruang-waktu, menyediakan kerangka kerja analitis yang kuat untuk mengkarakterisasi realitas pada skala paling fundamental.

4 Tampilan

Sumber-sumber

  • Passione Astronomia

  • Nature

  • MIT Physics

  • Physics World

  • Quantum Zeitgeist

  • Semantic Scholar

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.