Anomali Deuterium pada 3I/ATLAS Memicu Perdebatan Mengenai Asal-Usul Objek Antarbintang

Diedit oleh: Uliana Soloveva

Data spektroskopi yang diperoleh melalui Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) mengenai objek antarbintang 3I/ATLAS telah mengungkapkan kandungan deuterium yang luar biasa tinggi. Temuan ini memicu perdebatan ilmiah yang luas mengenai kemungkinan adanya asal-usul teknologi dari pengunjung kosmik tersebut. Anomali kimiawi ini memberikan perspektif baru bagi para peneliti dalam memahami materi yang berasal dari luar sistem bintang kita.

Rasio deuterium-hidrogen (D/H) pada metana (CH4) dan molekul lain di Tata Surya dan di luar.

Astrofisikawan Avi Loeb dari Universitas Harvard berpendapat bahwa keanehan ini bisa menjadi petunjuk adanya asal-usul artifisial. Sebagai objek antarbintang ketiga yang berhasil dikonfirmasi setelah 'Oumuamua dan Komet Borisov, 3I/ATLAS memberikan peluang unik untuk mempelajari material yang terbentuk di sistem tata surya lain. Deuterium, yang merupakan isotop hidrogen yang lebih berat, terdeteksi dalam emisi 3I/ATLAS dengan konsentrasi yang menantang paradigma sains saat ini.

Dua penelitian awal yang dirilis pada Maret 2026 merinci tingkat pengayaan tersebut secara mendalam. Studi pertama pada 6 Maret 2026 menyimpulkan bahwa rasio deuterium terhadap hidrogen (D/H) dalam uap air objek tersebut melampaui rekor komet sebelumnya sekitar 950 persen. Studi kedua, tertanggal 24 Maret 2026, menemukan bahwa metana yang dikeluarkan oleh 3I/ATLAS mengandung isotop ini dalam konsentrasi yang seribu kali lebih tinggi dibandingkan planet-planet di Tata Surya kita. Data numerik ini mempertegas skala anomali tersebut: rasio D/H dalam metana tercatat 14 kali lebih tinggi daripada Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko, dengan rasio isotop karbon (12C/13C) yang juga melampaui nilai standar di Tata Surya.

Sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa tanda isotop ekstrem ini merupakan bukti bahwa objek tersebut terbentuk dalam kondisi suhu yang sangat dingin, di bawah 30 derajat Kelvin, di lingkungan yang miskin logam pada masa awal pembentukan Galaksi. Penjelasan ilmiah arus utama menyatakan bahwa anomali ini adalah konsekuensi dari pembentukan 3I/ATLAS dalam cakram protoplanet purba, yang membuatnya jauh lebih tua daripada Tata Surya kita yang berumur 4,57 miliar tahun. Komposisi isotop karbon mengindikasikan bahwa objek ini berasal dari sekitar 10 hingga 12 miliar tahun yang lalu, menjadikannya sisa-sisa kuno dari sistem planet di cakram tebal Bima Sakti.

Profesor Loeb membantah hipotesis alami tersebut dengan argumen bahwa bintang-bintang tua dengan kandungan logam rendah tidak akan memiliki elemen berat yang cukup untuk membentuk objek semasif itu. Ia juga menegaskan bahwa cakram protoplanet primitif pada masa itu tidak mungkin memiliki suhu yang lebih rendah daripada radiasi latar belakang kosmik, yakni sekitar 30 Kelvin. Karena tidak adanya penjelasan alami yang memuaskan, Loeb menyarankan untuk mempertimbangkan kemungkinan lain, terutama peran deuterium sebagai bahan bakar fusi nuklir, dan mengajukan teori bahwa keberadaan isotop yang tidak wajar ini bisa jadi merupakan tanda teknologi.

Objek 3I/ATLAS pertama kali ditemukan pada Juli 2025, dan mencapai titik terdekatnya dengan Jupiter pada 16 Maret 2026. Saat ini, objek tersebut tengah bergerak keluar dari sistem Tata Surya, sehingga kesempatan untuk melakukan observasi mendalam semakin menipis. Perlu dicatat bahwa objek ini cukup terang untuk diamati oleh astronom amatir. Penelitian terhadap komposisinya, termasuk deteksi nikel atomik tanpa adanya besi, memberikan data yang sangat berharga bagi pemahaman kimia antarbintang.

12 Tampilan

Sumber-sumber

  • MysteryPlanet.com.ar

  • Futurism

  • Avi Loeb

  • Avi Loeb

  • Live Science

  • BBC Sky at Night Magazine

Baca lebih banyak artikel tentang topik ini:

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.