Landasan Ilmiah 'Bahasa Anjing' dan Dampak Emosi Suara pada Kanin
Diedit oleh: Olga Samsonova
Praktik berbicara kepada anjing dengan nada emosional dan bernada tinggi, yang dikenal sebagai Dog-Directed Speech (DDS), memiliki landasan ilmiah yang teruji dalam penelitian kognisi hewan. Gaya vokal ini menunjukkan kemiripan akustik dengan Infant-Directed Speech (IDS), pola bicara yang digunakan orang tua kepada bayi, ditandai dengan peningkatan frekuensi nada dan variasi vokal yang lebih besar. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa anjing memberikan respons yang jauh lebih kuat terhadap gaya vokal DDS dibandingkan ucapan dewasa standar, dengan efek paling signifikan teramati pada anak anjing.
Studi menggunakan pemindaian fungsional MRI (fMRI) pada tahun 2016 oleh Attila Andics dari Universitas Eötvös Loránd di Budapest, Hungaria, mengungkapkan bahwa belahan otak kiri anjing merespons konten kalimat, sementara belahan otak kanan merespons intonasi, mengindikasikan pemrosesan bahasa yang kompleks. Penelitian lebih lanjut pada tahun 2024 oleh Marianna Boros di universitas yang sama, menggunakan EEG pada 27 anjing, mengonfirmasi bahwa anjing memproses nada dan bahasa di dua area otak terpisah, mirip dengan mekanisme pada manusia, yang menguatkan pemahaman mereka terhadap emosi dan makna kata.
Penemuan yang lebih baru, dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal PLOS One, mengaitkan pendengaran suara manusia yang bernada bahagia atau marah dengan perubahan terukur pada postur dan keseimbangan tubuh anjing. Studi yang melibatkan 23 anjing peliharaan ini menemukan bahwa suara marah paling kuat diasosiasikan dengan destabilisasi keseimbangan, sementara suara bahagia menghasilkan respons yang beragam: 57 persen anjing menunjukkan destabilisasi, dan 43 persen menunjukkan stabilisasi atau "pembekuan" (freezing).
Meskipun intonasi yang dilebih-lebihkan efektif untuk menarik perhatian dan memperkuat ikatan emosional, studi yang terbit pada tahun 2025 dalam jurnal Animal Cognition menggarisbawahi bahwa anjing tetap mampu menyerap makna leksikal dari kata-kata yang disampaikan dalam nada datar. Hal ini menyiratkan adanya pemisahan antara fungsi vokalisasi untuk menarik perhatian dan fungsi untuk menyampaikan informasi semantik. Penelitian lain dari tahun 2025 juga menunjukkan bahwa anjing mengalami kesulitan signifikan dalam mengenali kata dari suara yang terdistorsi, seperti yang dihasilkan oleh tombol komunikasi Augmentative Interspecies Communication (AIC), meskipun mereka unggul dalam merespons ucapan langsung.
Kapasitas anjing untuk memahami ucapan manusia merupakan hasil dari proses domestikasi yang diperkirakan dimulai antara 20.000 hingga 40.000 tahun yang lalu dari serigala, mengubah komposisi genetik dan perilaku mereka. Pemahaman ini, yang mencakup kemampuan referensial—mengasosiasikan kata dengan objek tertentu—menunjukkan kedalaman pemrosesan bahasa pada kanin. Penelitian mengenai DDS ini berkontribusi pada pengetahuan dasar interaksi lintas spesies dan berpotensi mendukung pengembangan pelatihan hewan yang lebih efektif.
3 Tampilan
Sumber-sumber
Todo Noticias
La Silla Rota
KOMPAS.com
Vertex AI Search
CBS News
Academia Europaea
PubMed
PsyPost
Infobae
OkDiario
Purina
ámbito.com
20minutos
KOMPAS.com
Alumni IPB
Kompas.tv
Tempo.co
detikNews
Baca lebih banyak artikel tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



