Perwakilan Perdagangan Internasional Tiongkok, Li Chenggang, melakukan kunjungan penting ke Washington D.C. dari tanggal 27 hingga 29 Agustus 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk mendiskusikan hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral dengan pejabat Amerika Serikat, menyusul lawatannya ke Kanada. Agenda utama meliputi peninjauan kesepakatan yang ada, pengelolaan perbedaan, serta perluasan kerja sama melalui dialog yang setara.
Perundingan ini berlangsung dalam periode gencatan senjata tarif yang disepakati antara kedua negara, yang awalnya berlaku hingga 9 November 2025. Gencatan senjata ini memberikan jeda dari eskalasi tarif yang sebelumnya mengancam hubungan ekonomi, yang berpotensi mendekati embargo perdagangan. Dalam kunjungannya, Li Chenggang bertemu dengan perwakilan dari Departemen Keuangan AS, Departemen Perdagangan AS, dan Kantor Perwakilan Dagang AS.
Fokus utama diskusi mencakup implementasi perjanjian sebelumnya dan penjajakan cara-cara untuk mengelola perbedaan serta meningkatkan kerja sama. Meskipun kunjungan ini bersifat informal, hal ini menandakan komitmen kedua negara untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka di tengah kompleksitas hubungan ekonomi global. Kementerian Perdagangan Tiongkok menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam memanfaatkan mekanisme konsultasi ekonomi dan perdagangan bilateral demi menjaga perkembangan hubungan yang stabil, sehat, dan berkelanjutan.
Kunjungan ini juga menyoroti area fokus kritis seperti ekspor bahan tanah jarang dari Tiongkok dan produk teknologi dari AS, yang menjadi poin penting dalam negosiasi. Perang dagang antara AS dan Tiongkok yang dimulai sejak 2018 telah menciptakan ketegangan ekonomi global, dengan kebijakan tarif tinggi yang berdampak luas. Namun, gencatan senjata tarif ini memberikan kesempatan untuk menstabilkan hubungan dan mencari solusi konstruktif.
Data terbaru menunjukkan bahwa defisit perdagangan AS dengan Tiongkok menyusut pada Juni 2025, menandakan adanya pergeseran dalam dinamika perdagangan, meskipun tantangan struktural tetap ada. Para analis berpendapat bahwa perpanjangan gencatan senjata ini memberikan waktu tambahan untuk menyelesaikan masalah-masalah struktural dalam hubungan dagang kedua negara, yang pada akhirnya dapat mengurangi ketegangan dan membangun kerangka kesepakatan yang lebih kokoh di masa mendatang.