Deja vu! Exactly 26 hours after Active Region 4274 produced an X1.7 flare, it generated an X1.2 flare (R3-Strong on the NOAA Scales) at 10/0919 UTC. As Region 4274 continues to maintain a complex magnetic structure, additional flares are possible for the next 24-48 hours.
Matahari Melepaskan Serangan Ganda ke Bumi: Suar Kelas X1.2 Terjadi Lagi
Penulis: Uliana Soloveva
Matahari telah mencatat suar terkuat kedua dalam rentang waktu dua hari berturut-turut, menandakan periode aktivitas surya yang sangat intens. Peristiwa kelas X1.21 ini terdeteksi pada 10 November, tepat pukul 09:19 UTC. Sumber dari letusan kuat ini adalah Wilayah Aktif 4274, zona yang sama yang bertanggung jawab atas letusan sebelumnya, yaitu suar X1.79 yang lebih kuat, yang terjadi pada 9 November.
Major X1.21 flare from sunspot region 4274 Follow live on spaceweather.live/l/flare
X1.2 flash sejak 10 November 2025
Namun, peristiwa terkini ini menunjukkan dinamika yang tidak biasa dan anomali. Alih-alih mengalami penurunan tajam dalam tingkat radiasi seperti yang biasa diharapkan setelah mencapai puncak, intensitas emisi tetap bertahan di dataran tinggi yang tinggi. Dalam bidang heliofisika, kondisi emisi yang berkelanjutan ini dianggap sebagai indikator kuat dan tepercaya bahwa telah terjadi lontaran massa korona (Coronal Mass Ejection/CME) yang sangat masif—yaitu pelepasan awan raksasa plasma surya berenergi tinggi ke ruang angkasa.
Situasi menjadi semakin rumit karena lontaran plasma dari suar yang terjadi kemarin, 9 November, sudah bergerak menuju Bumi dengan kecepatan sekitar 720 km/s. Sementara itu, lontaran baru yang dihasilkan oleh suar X1.21 diperkirakan bergerak dengan kecepatan yang memecahkan rekor, yaitu 1200 km/s, melesat tepat di belakang yang pertama. Para astronom memprediksi munculnya fenomena yang disebut “kanibalisme” surya. Ini terjadi ketika lontaran kedua yang lebih cepat dan lebih energik akan menyusul dan menyerap lontaran pertama di ruang antarplanet.
Proses kanibalisme ini sering diibaratkan dengan taktik balap: pembalap yang memimpin menghabiskan energi untuk mengatasi hambatan, sementara pembalap yang mengikuti di belakang memanfaatkan zona aerodinamis yang terbentuk oleh pemimpinnya. Front plasma gabungan yang dihasilkan dari penggabungan ini akan jauh lebih padat dan lebih kuat dibandingkan jika kedua lontaran tersebut bergerak sendiri-sendiri. Berdasarkan data model, front plasma yang telah bersatu ini diperkirakan akan mencapai sekitar Bumi pada transisi antara 11 dan 12 November.
Kontak awal dengan magnetosfer Bumi diperkirakan terjadi sekitar pukul 17:00 UTC pada 11 November. Meskipun demikian, dampak utama—puncak badai geomagnetik yang paling signifikan—diproyeksikan akan menghantam selama jam-jam malam setelah kontak awal tersebut. Walaupun kemungkinan terjadinya hantaman langsung (head-on) dianggap kecil karena adanya sedikit pembelokan lintasan ke arah barat, planet kita tetap diprediksi akan menghadapi gangguan geomagnetik paling signifikan yang pernah tercatat dalam beberapa bulan terakhir.
Aktivitas intens ini berpotensi menciptakan kondisi yang memungkinkan pengamatan aurora borealis (cahaya kutub) bahkan di lintang menengah, sebuah fenomena yang sangat jarang terjadi di wilayah tersebut. Oleh karena itu, situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para operator sistem energi global, karena badai geomagnetik dapat memicu arus induksi di darat yang berpotensi mengganggu jaringan listrik, satelit, dan infrastruktur komunikasi penting lainnya di seluruh dunia.
Baca lebih banyak artikel tentang topik ini:
A G2 (Moderate) geomagnetic storm watch has been issued for 03-04 Apr, 2026, due to combined influence from on-going CH HSS and a CME that left the Sun on 02 Apr. Stay tuned to our website for updates.
G2 Watch for 31 Mar UTC-day still stands. We evaluated the 29 Mar (EDT) CME and feel fairly certain most ejecta will pass behind Earth's orbit; although we do anticipate enough flanking effects to warrant the G2 Watch, with a chance for G3. Stay aware at spaceweather.gov
REPOST: An X1.4 flare was produced by Region 4405, peaking at 0319 UTC on 30 March and resulted in an R3 (Strong) Radio Blackout. An associated coronal mass ejection is seen in coronagraph imagery and analysis is currently ongoing. Visit spaceweather.gov to stay informed.
