Senyar, siklon langka yang membawa bencana ke Sumatra.
Badai Tropis Senyar Picu Banjir Bandang dan Tanah Longsor Katastropik di Sumatra
Diedit oleh: Tetiana Martynovska 17
Dampak sisa dari Badai Tropis Senyar kini masih memengaruhi pola meteorologi regional setelah badai tersebut memberikan pukulan telak di wilayah utara Sumatra. Sistem cuaca ini, yang awalnya terdeteksi sebagai Depresi Tropis 95B di Selat Malaka, akhirnya mendarat di dekat Langsa, Aceh, pada hari Rabu, 27 November 2025. Kejadian siklon lintang rendah di zona khatulistiwa ini dianggap sebagai fenomena meteorologi yang sangat langka, sehingga menarik perhatian intensif dari berbagai badan pemantau iklim.
Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) telah mendesak publik untuk siap menghadapi hujan deras yang berkelanjutan, angin kencang, dan laut bergelombang seiring dengan mendekatnya topan tropis Senyar.
Badai ini menunjukkan intensifikasi yang sangat cepat, memicu pembentukan Kompleks Konvektif Meso-skala (MCC). Pembentukan MCC ini ditandai dengan curah hujan yang sangat lebat dan berkelanjutan. Akibatnya, terjadi curah hujan ekstrem yang mencetak rekor di provinsi Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) sepanjang periode 25 hingga 27 November 2025. Banjir bandang berskala masif dan tanah longsor dahsyat melanda wilayah-wilayah terdampak, menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur vital serta mengganggu total aktivitas harian dan roda perekonomian masyarakat.
Berdasarkan penilaian awal yang berhasil dihimpun hingga hari Jumat, 28 November 2025, situasi di ketiga provinsi tersebut telah berubah menjadi krisis kemanusiaan yang parah. Laporan-laporan awal telah mengonfirmasi adanya ratusan korban jiwa akibat bencana ini. Salah satu dampak paling krusial adalah terputusnya total jalur transportasi utama yang menghubungkan Padang dengan Bukittinggi di Sumatra Barat. Jalur tersebut lumpuh total akibat longsor besar dan genangan air di kawasan Lembah Anai. Blokade ini secara serius menghambat upaya penyelamatan dan membuat banyak komunitas terisolasi dari bantuan luar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia tengah memimpin operasi tanggap darurat secara terkoordinasi. Prioritas utama saat ini adalah membangun rute logistik alternatif untuk mendistribusikan bantuan esensial kepada masyarakat yang terputus aksesnya. Pihak berwenang telah mengeluarkan peringatan keras, mendesak publik untuk menghindari perjalanan yang tidak mendesak. Ancaman tanah longsor susulan masih sangat tinggi mengingat tingkat kejenuhan tanah akibat akumulasi curah hujan ekstrem, di mana beberapa lokasi mencatat curah hujan melebihi 300 milimeter dalam kurun waktu 24 jam saja.
Para ahli meteorologi kini tengah menganalisis lintasan badai yang sangat dekat dengan garis ekuator tersebut dalam konteks dinamika iklim global yang terus berubah. Mereka membandingkan intensitas curah hujan yang terjadi dengan tolok ukur historis di kawasan tersebut. Konsekuensi ekonomi diperkirakan akan sangat besar, terutama pada sektor pertanian di Sumatra Utara dan biaya perbaikan infrastruktur di Sumatra Barat, yang diproyeksikan mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat. Meskipun organisasi bantuan telah mengerahkan sumber daya yang signifikan, proses pemulihan diperkirakan akan memakan waktu lama, menuntut dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat dan bantuan internasional untuk membangun kembali infrastruktur yang lebih tangguh dan tahan bencana.
Sumber-sumber
KOMPAS.com
VOI - Waktunya Merevolusi Pemberitaan
Travel Detik
TRIBUNPADANG.COM
Posmetropadang.co.id
KOMPAS.com
RRI
BNPB: 164 Orang Meninggal Akibat Bencana di Sumut, Sumbar, dan Aceh - Metro TV
Data Terkini Korban Bencana di Aceh-Sumut-Sumbar: 174 Orang Tewas - detikNews
Banjir Bandang di Agam, BPBD: 86 Korban Meninggal, 88 Masih Hilang - Metro TV
Prospek Cuaca Mingguan Periode 28 November – 04 Desember 2025: Siklon Tropis “SENYAR” Punah, Gelombang Atmosfer Pengaruhi Cuaca Signifikan di Indonesia - BMKG
Mengenal Siklon Tropis Senyar, Fenomena Langka yang Picu Banjir Besar Sumatra - Kompas
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?
Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
