Bitcoin Tertekan di Level $66.769 Akibat Ketegangan Geopolitik dan Sinyal Teknis Bear Flag

Diedit oleh: Yuliya Shumai

Pada penghujung Februari 2026, sistem keuangan global menghadapi tekanan berat terhadap aset-aset berisiko yang dipicu oleh eskalasi peristiwa geopolitik yang signifikan. Serangan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menyebabkan penutupan Selat Hormuz, sebuah jalur krusial yang melayani sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia. Dampaknya terasa seketika dengan lonjakan harga energi yang drastis, di mana minyak jenis Brent Crude Oil mencapai puncaknya di kisaran 126 dolar per barel pada 8 Maret 2026. Fenomena kejutan minyak ini memicu pergerakan pasar ke arah risk-off secara luas, yang secara langsung memberikan sentimen negatif terhadap performa mata uang kripto utama di pasar global.

Sebagai konsekuensi dari guncangan makroekonomi tersebut, Bitcoin saat ini diperdagangkan di sekitar level 66.769 dolar, mencerminkan penurunan tajam sekitar 47% dari rekor tertinggi sepanjang masanya. Analisis teknikal pada grafik mata uang kripto ini menunjukkan kemunculan pola bear flag, yang menurut pandangan para analis, merupakan sinyal kuat akan potensi kelanjutan tren penurunan harga. Kondisi ini menciptakan kekhawatiran mendalam di kalangan pelaku pasar jangka pendek, terutama karena belum adanya katalisator segera yang mampu memicu pembalikan arah pasar dalam waktu dekat.

Para analis yang mengamati siklus jangka panjang, seperti Benjamin Cowen, menyoroti bahwa pergerakan harga pada tahun 2026 ini memiliki kemiripan dengan pola historis pertengahan siklus yang pernah terjadi pada tahun 2014, 2018, dan 2022. Fase saat ini diidentifikasi sebagai periode pendinginan yang diperlukan atau zona penurunan tengah siklus setelah reli besar yang terjadi sepanjang tahun 2025. Proyeksi teknis saat ini mengarah pada target penurunan awal di kisaran 50.000 dolar, dengan kemungkinan titik terendah yang lebih dalam pada level 41.000 dolar jika tekanan jual terus berlanjut.

Meskipun terdapat tekanan teknis dalam jangka pendek, ekspektasi institusional untuk jangka panjang tetap optimis, menciptakan narasi yang berbeda di pasar. Dukungan struktural tetap terjaga melalui penyerapan aset yang stabil melalui ETF Bitcoin spot, yang berhasil menyerap aliran dana masuk sebesar 4,2 miliar dolar pada kuartal pertama tahun 2026. Lembaga keuangan raksasa tetap mempertahankan target akhir tahun yang agresif, di mana Bernstein memprediksi harga akan mencapai 150.000 dolar, sementara Standard Chartered memproyeksikan level di atas 140.000 dolar bagi aset digital ini.

Ketegangan geopolitik yang diperburuk oleh ultimatum Donald Trump terkait Selat Hormuz dan ancaman balasan dari pihak Iran juga mengguncang pasar tradisional secara luas. Indeks utama Amerika Serikat, termasuk S&P 500, telah merosot ke bawah rata-rata pergerakan 200 hari. Di Eropa, situasi ini memicu kekhawatiran serius, mendorong Kepala Bundesbank, Joachim Nagel, untuk menyatakan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada April mendatang jika tekanan harga dari Timur Tengah terus meningkat. Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, menggambarkan kondisi ini sebagai krisis energi terbesar dalam empat dekade terakhir.

Dengan demikian, pasar mata uang kripto saat ini berada dalam kondisi dikotomi yang tajam. Ancaman langsung yang berasal dari guncangan makroekonomi eksternal dan pola teknis bearish harus berhadapan dengan keyakinan jangka panjang terhadap permintaan struktural yang didukung oleh proyeksi institusional yang kuat. Masa konsolidasi ini merepresentasikan periode ketidakpastian yang sangat tinggi bagi seluruh partisipan pasar, di mana dinamika global akan terus menjadi penentu utama arah pergerakan aset digital ke depannya.

3 Tampilan

Sumber-sumber

  • NewsBTC

  • coinpedia.org

  • TradingView

  • Benzinga

  • The Crypto Basic

  • openPR.com

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.