Respons Orang Tua terhadap Nilai Akademik Membentuk Kesehatan Mental Pelajar
Diedit oleh: Olga Samsonova
Reaksi orang tua terhadap fluktuasi skor akademik memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mental dan motivasi seorang anak, terutama dalam konteks tekanan akademis yang berkelanjutan. Tekanan akademik yang tinggi, yang seringkali dipicu oleh persaingan ketat dan tuntutan nilai tinggi, telah terbukti secara substansial meningkatkan risiko depresi pada remaja di Indonesia.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyoroti prevalensi gangguan emosional pada remaja usia 15 tahun ke atas, dengan 9,8% melaporkan mengalami stres, depresi, dan kecemasan. Kondisi ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan pendekatan yang lebih suportif dari figur orang tua. Para ahli menyarankan orang tua untuk menjaga ketenangan ketika nilai anak menurun, menghindari reaksi negatif langsung seperti tuduhan atau hukuman, karena respons semacam itu terbukti meningkatkan tingkat stres dan perilaku penghindaran pada anak.
Alih-alih memprioritaskan hasil akhir ujian, orang tua idealnya berfokus pada proses belajar itu sendiri. Perbandingan anak dengan rekan sebayanya terbukti dapat menekan kondisi mental anak lebih lanjut. Dalam konteks komunikasi interpersonal, orang tua dianjurkan mengadopsi bahasa kolaboratif, membingkai masalah sebagai tantangan bersama, misalnya dengan menyatakan, "Mari kita telaah mengapa hasilnya menurun kali ini." Pendekatan ini mengalihkan fokus dari menyalahkan menuju pencarian kemajuan kolektif, sejalan dengan prinsip komunikasi efektif yang menekankan kebersamaan, keterbukaan, dukungan, rasa positif, dan empati.
Investigasi akar penyebab penurunan nilai sangat krusial; hal ini dapat berasal dari kesenjangan pengetahuan spesifik, ketidakcocokan gaya mengajar, atau isu yang lebih luas seperti kebiasaan tidur yang buruk atau waktu layar yang berlebihan. Studi menunjukkan bahwa siswa yang sering absen dan memiliki nilai rendah cenderung mengalami masalah kesehatan mental, menekankan kebutuhan untuk meningkatkan akses layanan kesehatan mental di sekolah. Menciptakan lingkungan komunikasi yang terbuka, yang dapat dilakukan saat melakukan aktivitas santai, mendorong anak untuk berbagi pergumulan emosional yang mendasarinya.
Perbaikan jangka panjang menuntut pengembangan rencana konkret bersama anak, baik untuk mengatasi teknik belajar maupun menyesuaikan jadwal harian demi istirahat yang memadai. Peran orang tua perlu bertransformasi menjadi kemitraan suportif, bukan kontrol otoriter, guna menumbuhkan ketangguhan (resiliensi) saat anak belajar menavigasi tantangan akademis secara positif. Penelitian di SMA Negeri 1 Mlati mengindikasikan korelasi signifikan antara peran orang tua yang kurang baik dengan gangguan kesehatan mental pada siswa, di mana hasil uji Spearman menunjukkan nilai sig. (2-tailed) sebesar 0.002, yang lebih kecil dari 0.005, memperkuat pandangan bahwa intervensi dukungan orang tua sangat diperlukan untuk menjaga kesejahteraan psikologis pelajar di tengah tuntutan pendidikan yang semakin kompleks.
8 Tampilan
Sumber-sumber
afamily.vn
Báo Giáo dục và Thời đại Online
colanh.vn
aFamily
Báo Mới
Trường TH Trần Cao Vân Đà Nẵng
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



