Kebiasaan Harian dan Penilaian Ulang Stres Menentukan Kesejahteraan Jangka Panjang

Diedit oleh: Olga Samsonova

Kebahagiaan yang berkelanjutan, menurut pakar strategi kebahagiaan Jessica Weiss, tidak ditentukan oleh kebetulan atau akumulasi kekayaan materi, melainkan merupakan hasil dari praktik kebiasaan harian yang konsisten. Setelah lima belas tahun mengkaji fenomena kebahagiaan, Weiss menyimpulkan bahwa individu yang paling bahagia secara aktif melatih pikiran mereka untuk menyambut kegembiraan melalui serangkaian tindakan terstruktur. Penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati adalah pekerjaan internal yang memerlukan latihan berkelanjutan, bukan sekadar pilihan sesaat.

Di antara sepuluh praktik spesifik yang ditekankan Weiss adalah pengutamaan hubungan persahabatan yang erat, yang diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak dapat dinegosiasikan oleh orang-orang yang paling bahagia. Selain itu, keterlibatan dalam kegiatan kreatif, seperti memasak, berkebun, atau melukis, secara signifikan meningkatkan tingkat kebahagiaan yang dilaporkan. Praktik penting lainnya mencakup pemulihan strategis dari kelelahan mental—misalnya, melakukan jogging saat otak lelah karena pekerjaan—dan penetapan batasan pribadi yang tegas untuk menjaga kesejahteraan. Kebiasaan-kebiasaan ini secara kolektif menciptakan efek positif yang berfungsi sebagai fondasi kehidupan yang lebih seimbang dan produktif dalam jangka panjang.

Secara terpisah, disiplin ilmu lain menyoroti sifat adaptif dari stres, yang berfungsi sebagai sinyal bahwa suatu hal memiliki kepentingan vital bagi individu. Konsep ini diperkenalkan oleh Hans Selye, seorang ilmuwan kelahiran Austria-Hungaria yang dikenal sebagai bapak pendiri sindrom adaptasi umum pada tahun 1936. Selye berpendapat bahwa stres bukanlah apa yang terjadi pada seseorang, melainkan bagaimana reaksi individu terhadapnya.

Dr. Laura Sokka mendukung perspektif mengenai penilaian ulang stres, menekankan bahwa tekanan dapat mempertajam fokus dan memobilisasi sumber daya untuk bertindak, sebuah konsep yang memiliki korelasi kuat dengan 'eustress' yang dipopulerkan oleh Selye. Eustress didefinisikan sebagai respons positif tubuh terhadap tantangan yang dianggap bermanfaat dan mendorong perkembangan diri. Sokka menguraikan tiga langkah untuk membangun hubungan positif dengan stres: menamai stres tersebut, menerimanya, dan memanfaatkannya untuk perubahan yang diperlukan. Sementara stres negatif yang berkelanjutan membebani tubuh, penilaian ulang positif berkorelasi dengan peningkatan kesehatan metabolik.

Eustress, yang berbeda dari 'distress' atau stres negatif yang membuat kewalahan, dapat meningkatkan konsentrasi, memotivasi pencapaian tujuan baru, dan meningkatkan ketangguhan. Penelitian menunjukkan bahwa pandangan positif terhadap tekanan dapat mengubah tantangan menjadi dorongan untuk berkembang, bukan sekadar beban emosional. Situasi seperti wawancara kerja atau persiapan pernikahan dapat memicu eustress, di mana kecemasan yang muncul disertai dengan antisipasi akan hasil yang membahagiakan. Mengadopsi kerangka berpikir ini memungkinkan individu memanfaatkan energi adaptif mereka untuk pertumbuhan, sebuah konsep yang melengkapi pemahaman tentang bagaimana kebiasaan harian membentuk kebahagiaan jangka panjang.

7 Tampilan

Sumber-sumber

  • ФОКУС

  • Laitilan Sanomat

  • Psykologilehti

  • Laura Sokka

  • Laura Sokka | Akateeminen Kirjakauppa

  • ResearchGate GmbH

  • Psykopodiaa-podcast 205

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.