Keterikatan Emosional Musik Remaja Dijelaskan oleh Fenomena 'Reminiscence Bump' Neurosains

Diedit oleh: Olga Samsonova

Musik yang didengarkan selama masa remaja memicu reaksi emosional yang kuat, sebuah fenomena yang didukung oleh temuan neurosains mengenai pengkodean memori yang intens selama fase perkembangan krusial. Lagu-lagu dari periode ini menunjukkan daya tahan memori yang luar biasa, mampu membangkitkan perasaan masa lalu secara instan. Penelitian mengindikasikan bahwa musik yang dikonsumsi antara usia 12 hingga 22 tahun mengalami pengkodean mendalam, bertepatan dengan periode yang dikenal sebagai 'reminiscence bump,' di mana otak cenderung mempertahankan ingatan dari masa muda dengan sangat kuat.

Periode remaja ditandai oleh perubahan signifikan pada struktur dan fungsi otak, terutama pada jaringan yang mendukung pemrosesan penghargaan atau *reward processing networks*, yang secara kolektif memperkuat pengalaman mendengarkan musik. Bagi remaja, musik berfungsi sebagai instrumen vital dalam pembentukan identitas diri, sarana untuk ekspresi emosional, dan perekat untuk koneksi sosial. Studi global menunjukkan bahwa puncak keterikatan emosional terhadap musik terjadi sekitar usia 17 tahun, meskipun terdapat variasi gender; pria cenderung mencapai puncaknya lebih awal, sementara wanita menunjukkan fleksibilitas yang lebih panjang dalam pembentukan ikatan musik tersebut.

Fenomena 'reminiscence bump' secara umum merujuk pada proses psikologis di mana ingatan terkait peristiwa, tempat, dan orang lebih kuat terenkode selama masa remaja dan dewasa awal, berkisar antara usia 10 hingga 30 tahun. Dalam konteks musik, ini berarti bahwa lagu-lagu yang didengar pada periode ini memicu nostalgia secara tidak proporsional dibandingkan musik dari periode kehidupan lainnya. Penelitian oleh Jakubowski et al. pada tahun 2020, yang dipublikasikan di jurnal Music & Science, menginvestigasi bagaimana 470 orang dewasa merespons lebih dari seratus lagu pop yang menduduki puncak tangga lagu selama rentang 65 tahun, memperkuat temuan ini.

Kekuatan emosi yang dialami selama masa remaja bertindak sebagai faktor penentu utama, karena musik secara langsung memicu keadaan emosional yang kuat tersebut, secara instan memanggil kembali perasaan masa lalu. Koneksi mendalam ini terjadi karena musik dapat terhubung langsung ke area otak seperti amigdala, hippocampus, dan korteks prefrontal, yang mengatur emosi, memori, dan refleksi diri. Respons intens terhadap musik remaja adalah hasil interaksi kompleks antara memori, emosi, dan identitas, yang berfungsi sebagai kapsul waktu neurologis yang divalidasi oleh ilmu saraf kontemporer.

Lebih lanjut, penelitian menunjukkan bahwa musik yang didengarkan pada masa remaja tidak hanya membentuk memori personal tetapi juga dapat memengaruhi kecerdasan emosional. Sebuah studi di Universitas Bali Internasional menemukan hubungan positif yang signifikan antara intensitas mendengarkan musik populer dengan kecerdasan emosional remaja akhir, di mana intensitas tersebut memberikan kontribusi sebesar 75,3% terhadap kecerdasan emosional mereka. Selain itu, musik berperan dalam regulasi suasana hati (*mood regulation*), di mana mendengarkan musik untuk memenuhi kebutuhan emosional dapat meningkatkan emosi positif atau mengurangi emosi negatif, yang merupakan komponen penting dari kebahagiaan. Temuan ini menegaskan bahwa musik di masa remaja adalah fondasi neurologis dan psikologis yang berkelanjutan bagi individu dewasa.

8 Tampilan

Sumber-sumber

  • Cancan.ro

  • National Institute on Aging

  • PubMed

  • University of Jyväskylä

  • Northwestern University

  • University of Jyväskylä

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.