Makna yang Ditetapkan Mendorong Intensitas Rasa Sakit Pasca Penolakan Romantis

Diedit oleh: Olga Samsonova

Intensitas rasa sakit yang dialami seseorang setelah menghadapi penolakan dalam hubungan romantis bersumber utama dari makna negatif yang secara otomatis dilekatkan pada peristiwa tersebut. Individu sering kali mengaitkan penolakan dengan kekurangan pribadi inheren, seperti perasaan tidak layak atau tidak cukup baik, sebuah pola kognitif yang secara signifikan memperkuat penderitaan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa respons emosional yang muncul tidak semata-mata berasal dari kehilangan pasangan, melainkan dari interpretasi internal yang merugikan diri sendiri, yang dapat menyebabkan penurunan signifikan dalam rasa percaya diri dan berdampak jangka panjang pada kesehatan mental.

Para pakar psikologi menekankan bahwa penolakan sering kali merupakan cerminan dari ketidakcocokan fundamental atau waktu yang tidak tepat, bukan merupakan vonis atas nilai diri sejati seseorang. Oleh karena itu, melakukan pembingkaian ulang kognitif (cognitive reframing) menjadi langkah krusial dalam upaya pemulihan kesehatan mental. Studi telah menemukan bahwa penolakan sosial, termasuk dalam konteks romantis, mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik, yang menjelaskan mengapa penolakan terasa secara harfiah menyakitkan. Mengatasi persepsi bahwa penolakan adalah indikasi kegagalan pribadi merupakan fondasi untuk membangun ketahanan psikologis yang lebih kuat.

Cara penolakan tersebut disampaikan memberikan pengaruh substansial terhadap proses pemulihan individu. Praktik yang dikenal sebagai ghosting, yaitu penghentian komunikasi secara tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan apa pun, secara signifikan memperburuk asumsi negatif karena menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan penutupan emosional. Kurangnya penutupan ini memicu kebingungan, kecemasan, dan penurunan harga diri yang berkelanjutan pada korban. Sebaliknya, penolakan yang disampaikan dengan kejelasan dan kehangatan, meskipun tetap menyakitkan, cenderung lebih mudah diproses oleh psikis korban.

Individu yang memiliki tingkat Sensitivitas Penolakan (Rejection Sensitivity atau RS) yang tinggi akan mengalami reaksi emosional yang jauh lebih intensif. Konsep RS, yang dikembangkan oleh Downey dan Feldman pada tahun 1996, mendefinisikan disposisi afektif-kognitif untuk secara cemas mengantisipasi, mudah mengenali, dan bereaksi secara berlebihan terhadap penolakan. Studi menunjukkan bahwa tingginya RS pada pengguna aplikasi kencan daring berada pada kategori sedang, dan dapat diperparah oleh interaksi sosial daring yang berfrekuensi tinggi, di mana isyarat ambigu lebih mudah diinterpretasikan sebagai penolakan.

Proses pemrosesan penolakan secara konstruktif dapat berfungsi sebagai 'vaksin' yang membangun ketahanan terhadap kekecewaan di masa depan. Sebagai respons terhadap sensitivitas ini, praktik seperti terapi penolakan (rejection therapy) mulai muncul sebagai metode untuk membantu individu memisahkan nilai diri dari validasi eksternal. Terapi penolakan, yang dipopulerkan oleh Jason Comely pada tahun 2010, bukanlah terapi klinis formal, melainkan teknik pengembangan diri yang melibatkan pencarian penolakan berisiko rendah secara sengaja. Dengan mengalami penolakan secara berulang dalam situasi terkontrol, otak belajar bahwa risiko dan penolakan tidak bersifat katastrofik, sehingga mengurangi penghindaran sosial dan kecemasan yang menghambat pencapaian tujuan pribadi.

2 Tampilan

Sumber-sumber

  • Lifestyle

  • Psychology Today

  • Psychology Today

  • Psychology Today

  • MindLAB Neuroscience

  • Psychology Today

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.