Belakangan ini, sebuah kisah luar biasa tengah menjadi sorotan hangat di ruang informasi Amerika Serikat. Sejumlah pendeta Protestan ternama secara terbuka mengklaim telah mengikuti pertemuan tertutup dengan pihak-pihak yang terkait dengan dinas rahasia dan intelijen AS. Kabarnya, mereka disarankan untuk mulai mempersiapkan jemaat masing-masing menghadapi rencana pengungkapan informasi mendatang mengenai UFO dan berbagai fenomena tak teridentifikasi lainnya.
Menurut Pendeta Perry Stone, sekelompok besar pemuka agama diundang ke sebuah negara bagian tertentu untuk bertemu dengan perwakilan pemerintah. Di sana, mereka diberi tahu mengenai rencana perilisan data tentang wahana antariksa asal luar bumi, makhluk-makhluk asing termasuk yang menyerupai reptil, serta unsur-unsur lain yang terdengar seperti alur film fiksi ilmiah. "Kalian perlu mempersiapkan umat kalian dan bersiaplah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka," demikian pesan yang kabarnya disampaikan dalam pertemuan tersebut.
I was in this meeting, and it's absolutely true.
Pastors Told to Prepare‼️👽🛸 Per pastor Perry Stone, “a large number” of pastors were invited to a meeting with individuals from the US government telling them to prepare for UFO disclosure: “There's going to be a release concerning aliens… You need to prepare your people.”
Pendeta Alan DiDio turut mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut. Ia menceritakan pengalamannya dalam pertemuan pribadi di mana ponsel harus dimatikan dan perekaman dilarang keras. Para peserta diperingatkan bahwa pengungkapan sudah di depan mata, dan banyak orang yang diprediksi tidak akan siap menghadapinya. DiDio menekankan bahwa para pendeta harus segera memberikan pembekalan kepada jemaat mereka mulai dari sekarang.
Pelayan Tuhan lainnya, termasuk Kevin Zadai, menambahkan rincian bahwa pembahasan tersebut tidak hanya soal kapal fisik, tetapi juga mengenai entitas yang bisa digambarkan sebagai makhluk antardimensi. Seorang anggota kongres yang hadir dalam pertemuan serupa dilaporkan menyatakan secara gamblang bahwa pihak gereja belum siap dengan apa yang akan diumumkan—termasuk mengenai versi sosok "pencipta" dari dimensi lain.
Jurnalis investigasi Ross Coulthart mencatat bahwa menurut pengakuan para pendeta, pengarahan semacam ini sebenarnya sudah dimulai sejak lebih dari setahun yang lalu. Meski belum bisa memastikan apakah ini merupakan kampanye resmi pemerintah atau inisiatif sekelompok penganut Kristen di internal komunitas intelijen, ia mendesak perlunya pengumpulan informasi tambahan.
Media Daily Mail turut memuat laporan mengenai topik ini, yang memberikan gaung lebih luas terhadap kisah tersebut di mata publik.
Para skeptis memandang fenomena ini sebagai bagian dari operasi psikologis atau upaya untuk membentuk narasi tertentu sejak dini. Di sisi lain, para pendukung teori UFO merujuk pada bukti-bukti selama bertahun-tahun, termasuk pernyataan resmi pejabat tentang program studi fenomena anomali tak teridentifikasi. Karena belum ada dokumen terkonfirmasi atau identitas sumber pemerintah yang terungkap, seluruh informasi ini sejauh ini masih bersandar pada pengakuan para peserta pertemuan tersebut.
Kisah ini mencerminkan meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap tema UFO secara umum. Di masa ketika pemerintah Amerika Serikat mulai membuka data tentang UAP (fenomena anomali tak teridentifikasi), reaksi komunitas agama menjadi elemen penting dalam diskusi publik. Apakah pengungkapan ini nantinya akan berskala "biblikal" atau sekadar tahap lain dalam pemberian informasi secara bertahap, hanya waktu yang akan menjawabnya. Sementara itu, para pendeta mengimbau jemaat mereka untuk tetap tenang dan bersiap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi mengubah pandangan dunia yang selama ini mereka yakini.



