Mei 2026 menjadi ujian sesungguhnya bagi para pencinta sensasi astronomi. Media sosial dibanjiri laporan mengenai "cahaya anomali" Bulan, namun di balik nuansa mistis tersebut, terdapat penjelasan fisika yang kaku dan kebetulan kalender yang langka.

Mari kita mulai dengan fakta utama: Bulan tidak mengubah spektrum fisiknya. Apa yang dianggap banyak orang sebagai "cahaya yang tidak biasa" dalam beberapa malam terakhir sebenarnya merupakan kombinasi dari dua faktor: hujan meteor Eta Aquarids di bulan Mei dan optik atmosfer. Puncak hujan meteor terjadi pada tanggal 5–6 Mei, dan meskipun Bulan yang terang dalam fase cembung akhir mengganggu pengamatan, satelit bumi itu sendiri menjadi pusat perhatian karena transparansi udara musim semi yang tinggi.
Lantas, mengapa semua orang membicarakan tentang "Bulan Biru"? Pada Mei 2026, kita menyaksikan fenomena langka "bulan dengan dua purnama". Purnama pertama (Bulan Bunga) terjadi pada 1 Mei, dan yang kedua akan berlangsung pada tanggal 31. Purnama kedua inilah yang secara tradisional disebut sebagai "Blue Moon", yang sebenarnya hanyalah sebuah idiom untuk menandakan kelangkaan peristiwa tersebut. Warna Bulan yang sebenarnya hanya dapat berubah menjadi kebiruan dalam kondisi katastrofik: adanya partikel abu besar di atmosfer akibat letusan gunung berapi atau kebakaran hutan berskala besar.
Adapun cahaya "keemasan" atau "berdarah" di ufuk langit merupakan fenomena hamburan Rayleigh yang klasik. Cahaya biru gelombang pendek terdispersi di lapisan atmosfer, sehingga hanya menyisakan warna-warna hangat. Ini bukanlah "aktivitas kosmik", melainkan bukti bahwa selubung gas planet kita bekerja layaknya lensa raksasa.
Dalam jangka panjang, anomali kalender seperti "dua purnama" di bulan Mei ini tidak terlalu penting bagi astrofisika, melainkan lebih bermakna untuk mempopulerkan sains. Ini adalah kesempatan untuk mengingatkan bahwa kita hidup dalam sistem yang dinamis, di mana posisi satelit terhadap Antares (bintang paling terang di konstelasi Skorpio, yang saat ini terlihat di dekat Bulan) pun tunduk pada hukum matematika yang ketat.
Haruskah kita mencari sesuatu yang lebih dari sekadar cahaya yang dipantulkan di langit malam? Tampaknya, ya. Sebab, pemahaman tentang bagaimana cahaya berinteraksi dengan atmosfer kita menuntun kita pada penciptaan model iklim dan sistem komunikasi optik yang lebih akurat.



